WAHAI si “PENDIAM” BICARALAH !!

Januari 30, 2008 oleh gentakitanews
Segumpal dan secercah kata bisa menjadi sumbat pikiran bila tidak segera diungkapkan. Betapa dada terasa amat sesak karena sebuah ide yang tertahan dalam kalbu. Tidur nyenyakpun sulit digapai ketika kepala terdapat unek-unek yang tidak tersalurkan.

“Menahan kencing”, mungkin itulah perumpamaan yang paling cocok bagi setiap orang yang tidak mau mengungkapkan ide dan unek-uneknya kepada kahalayak, baik secara lisan maupun tulisan, apalagi bila ide tersebut menyangkut kepentingan umat. Mengungkapkan pendapat atau gagasan adalah naluri setiap manusia, manusia akan berontak bukan kepalang jika mulutnya disumbat. Sama halnya dengan air seni, tidak bisa dipaksa untuk tetap tinggal di dalam kandung kemih.

Tentu saja setiap orang ingin menyampaikan isi hati atau isi fikirannya kepada kerabat, sahabat atau khalayak. Akan tetapi sebagian orang mempunyai masalah serius untuk menyampaikannya, mugkin karena keengganan menyampaikan, keenganan berkata atau rasa malu telah mengunci mulut.

Ketika seseorang telah gagal menyampaikan pendapat kepada orang lain, maka timbul sikap pesimis, bahwa gagasan yang tertahan tersebut dianggap tidaklah penting, tidak dibutuhkan oleh orang lain dan tidak ada gunanya, sehingga, tidak perlu disampaikan kepada halayak. Pesimisme semacam itu harus cepat-cepat ditepis, sebab ia akan datang kembali di kemudian hari, dan akan terus datang lagi, dan akan terus menempel pada kita, akhirnya membuat kita bisu tanpa sepatah kata. Otak akan semakin beku dan tumpul tertimbun ribuan ide yang terpenjara.

Bisa saja suatu ide atau gagasan yang kita anggap remeh, akan sangat berarti bagi orang lain. Si pemilik ide bisa saja tidak menyadari, bahwa gagasan yang tersimpan di dalam kalbu adalah solusi yang berguna bagi khalayak.

Kebebasan berekspresi dan berpendapat adalah hak setiap insan, bahkan untuk memberikan kebebasan berekspresi, menyampaikan ide dan gagasan, negara telah menghabiskan dana dan tenaga yang tidak sedikit. Negara telah mengadopsi system demokrasi yang konon memberi peluang besar terhadap rakyat untuk menyalurkan aspirasi; negara juga telah menumbuhsuburkan media elektronik dan media massa agar pendapat masyarakat tidak tersumbat. Tetapi sungguh aneh bila sebagian besar dari kita masih malu-malu untuk menyampaikan gagasan.

Di tengah-tengah keadaan gencarnya keran demokrasi, demontrasi, kebebasan pers dan kebebasan beraspirasi. Rasa malu-malu (menyampaikan gagasan) ini masih saja betah menghinggap pada kader-kader Pergerakan mahasiswa Islam Indonesia komisariat Kebayoran Lama, terutama mereka yang tergolong kaum hawa.

Ketika rapat, diskusi atau dialog, penulis seringkali melihat sahabati yang dirundung rasa malu untuk berbicara. Sehingga, diam tak berkomentar adalah satu-satunya pilihan. Padahal dalam fikiran dan benak mereka terdapat beragam gagasan yang harus dieksplor. Bukan saja karena masalah ini menyangkut kepentingan si “pendiam”, akan tetapi menyangkut kepentingan umat, bukankah memungkinkan sekali mereka punya ide brilian ?

Di tubuh PMII komisariat kebayoran Lama, masalah ini semestinya dimaknai sebagai masalah bersama yang harus diselesaikan bersama, bukan masalah indifidu saja, sebab untuk melatih berbicara atau berekspresi membutuhkan dorongan, stimulan serta lingkungan kekeluargaan yang ramah terhadap kesalahan berbicara. Kebanyakan si “pendiam”, mempunyai rasa takut ditertawakan oleh sahabatnya, tawaan khalayak menjadi momok yang mengerikan, sehingga memilih diam untuk mencari aman.

Semestinya, ketakutan semacam itu tidak perlu ada kalau saja semua khalayak memahami penyakit yang menjangkiti si “pendiam”, dengan sikap kekeluargaan dan saling memahami, sikap menganggap remeh dan menertawakan semestinya dihindari.

Sikap diam dan “simpan gagasan” akan mengurahi pengaruh indifidu terhadap lingkungan, sehingga menghambat obsesi PMII menciptakan kader yang mempunyai peran, baik peran dalam diskusi, rapat, kebijakan dan peran dalam bergerak

Oleh sebab itu, wahai si “pendiam”, bicaralah !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! dan wahai “sang orator” janganlah tertawa melihat mereka bicara………….

 

 

Hello world!

Januari 30, 2008 oleh gentakitanews

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!